Bersama-sama dengan rekan-rekan dari Komisi VIII, telah beberapa kali kami menyelenggarakan pemantauan lapangan penyelenggaraan ibadah haji, termasuk persiapan untuk musim haji tahun ini. Berangkat dari semangat yang disepakati semua pihak, bahwa para hujaj harus didukung sebaik mungkin agar dapat beribadah dengan sebaik-baiknya. Maka, beberapa catatan penyelenggaraan haji berikut ini saya paparkan. Ini agar dapat kita antisipasi bersama mengingat saat pelaksanaan ibadah haji tahun ini sudah amat dekat. Pemondokan Proyek perluasan areal Masjidil Haram menjadi salah satu faktornya. Tetapi sebetulnya ini dapat diantisipasi jauh hari oleh penyelenggara. Bila ketiadaan dana untuk menyewa dijadikan sebagai alasan, ini dapat diatasi dengan menggunakan dana talangan dari setoran-setoran yang sudah masuk dengan menempuh prosedur perizinan yang ada. Bila di harian Republika Kamis (25/9) lalu memberitakan pemerintah menyatakan kesiapan pemondokan 90 persen, pertanyaannya adalah berapa jauhnya pemondokan dari Masjidil Haram? Lalu 10 persennya yang berarti 19 ribu orang jamaah, dapatkah dijamin akan mendapat tempat yang layak karena waktu sudah amat mendesak? Dalam pemaparannya beberapa waktu lalu pemerintah menjelaskan pemondokan yang berada dalam radius 1.400 meter dari Haram hanya mencapai 17,62 persen atau menampung 35.315 jamaah. Di luar itu, lebih dari 150 ribu jamaah akan menempati pemondokan yang lebih jauh. Bahkan, di dua titik pemondokan terpadat, Aziziah Janubiah dan Sauqiah, jaraknya 3-7,5 kilometer dari Haram. Untuk lokasi Aziziah Mahatta Bank, jamaah harus menempuh jarak 7-8 km untuk mencapai Masjidil Haram. Ada pula pemondokan yang berjarak sampai 12 km dari Haram. Ada apa dengan jarak lima, enam, atau 12 km dari Haram? Apa masalahnya? Bukan jarak yang terlalu jauh?. Demikian mungkin sementara pihak akan menanggapinya. Perlu kita ingat bersama, jamaah haji Indonesia tak hanya terdiri dari yang bugar fisik dan cukup pengalaman serta pengetahuan dalam bepergian ke luar negeri. Banyak yang sudah berusia lanjut, dengan kondisi fisik yang tak lagi prima. Bertahun-tahun mereka menabung untuk dapat menunaikan rukun Islam kelima ini. Kesempatan mereka ketika anak-anak sudah menamatkan pendidikan dan mampu hidup mandiri. Tak sedikit pula jamaah haji kita adalah para perindu Kabah yang berasal dari pedesaan di pelosok-pelosok. Besar kemungkinan kepergian mereka berhaji ini kali pertama menjelajah, melewati batas kota tempat tinggalnya. Tentu pengalaman pertama ini cukup membutuhkan pengerahan segala potensi mereka. Jarak yang cukup jauh, bahkan mungkin ada yang harus sejauh 10 km dari Masjidil Haram, di negeri asing, dengan segala keawaman mereka, akan menjadi potensi masalah tersendiri. Keprihatinan kita, betapa mimpi indah jamaah adalah dapat menunaikan shalat setiap waktu di Masjidil Haram dengan Kabah dalam ruang pandang mereka. Dengan jarak pemondokan yang rata-rata di atas tiga kilometer, melalui lorong-lorong yang masih asing, berimpitan dengan lautan manusia yang memadati Makkah, seberapa besar kemungkinan yang mereka miliki? Transportasi Salah satu hal kecil yang terabaikan tetapi dapat berakibat fatal adalah bus-bus kita di terminal tidak mengibarkan bendera Merah Putih sebagai tanda yang akan dengan mudah dikenali di tengah kepadatan jutaan manusia. Pernah seorang ibu menunggu dua jam di pinggir terminal karena tidak tahu mana bus yang harus dinaikinya, sementara dia memiliki keterbatasan pemahaman bahasa dalam berkomunikasi. Juga pengalaman sebelumnya, bus ada tetapi tidak dapat digunakan karena ditinggalkan begitu saja oleh para pengemudinya. Jamaah harus mengeluarkan biaya ekstra untuk naik taksi. Kesehatan Bisa dibayangkan bila pemondokannya berjarak 10 kilometer, lebih dari 1.500 km yang harus ditempuh. Tentu ini amat melelahkan, dengan faktor iklim yang ekstrim pula. Maka kesiapan tim kesehatan haji amat dibutuhkan. Kesigapan tim, juga obat-obatan yang sesuai dan memadai, serta alat-alat kesehatan yang lengkap. Tingkat mortalitas jamaah haji masih masuk dalam kategori KLB, dengan adanya 500 jamaah haji yang meninggal tahun lalu. Tentu kita harapkan angka itu akan terus menurun. Dalam kesempatan sebelumnya masih saja ditemui pemberian obat yang terkesan asal-asalan. Juga perlu diantisipasi adanya jamaah yang mengalami gangguan psikis. Karena kesiapan finansial jamaah tidak selalu paralel dengan kesiapan mental untuk perjalanan yang jauh, keadaan akomodasi yang tak selalu memuaskan, juga keramaian yang ekstrem. Tentang tenaga kesehatan, sudah selayaknya tim kesehatan mengutamakan kepentingan jamaah daripada kepentingan masing-masing. Shalat di Masjidil Haram setiap waktu tentu sebuah kebaikan yang amat didambakan setiap Muslim. Namun, keberadaan dokter yang stand by tentu dalam hal ini lebih utama, sesuai tugas keberangkatannya. Dengan mekanisme shift yang adil tentu ini dapat diatasi. Seandainya anggota tim kesehatan berkeinginan menunaikan ibadah haji, disarankan mengambil manasik haji tamattu agar dapat lebih optimal melayani kebutuhan jamaah. Penerbangan Keterlambatan yang terjadi masih memprihatinkan. Tahun lalu masih terjadi delay hingga 30 jam. Kondisi ini amat memperburuk kesehatan jamaah. Sebaiknya pihak airline lebih bertanggung jawab dalam pelayanannya, dengan menyiapkan kondisi pesawat secara prima. Jangan terulang lagi kerusakan yang harus menunggu datangnya spare part dari luar negeri untuk perbaikannya. Makanan Maka jamaah yang jatuh sakit menjadi bertambah. Dalam hal ini cita rasa masakan Indonesia perlu sungguh-sungguh diperhatikan, dengan mendatangkan bumbu-bumbu masakan langsung dari Tanah Air. Juga akan lebih membantu bila katering yang biasa melayani jamaah umrah dilibatkan optimal karena tentu pengalaman pelayanan mereka akan sangat membantu. Ikhtisar: | |
| Pemutakhiran Terakhir ( Monday, 13 October 2008 ) |
PKS DPC Medan Baru, Partai Dakwah Yang Sangat Akrab Dengan Masyarakat, Yang Senantiasa Terus Melayani Masyarakat.
Selasa, 14 Oktober 2008
Persiapan Ibadah Haji 1429 H
Ditulis Oleh Yoyoh Yusroh - FPKS DPR RI
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar